the beginning

1 Februari 2010 at 13:06 | In c e r p e n | Leave a Comment

Informersial adalah satu-satunya obat mujarab jika kau mau sinting. Mereka mengulang-ulang satu lagu selama setengah jam dengan tayangan cara memasak makanan lezat yang dipercepat. Kalau hidupmu cukup kacau untuk ingin segera kau akhiri sebaiknya tonton acara ini. Setelah penghinaan gila-gilaan yang kulakukan dalam hati aku baru sadar kalau aku telah menontonnya selama lima menit. Mungkin ada bagian dari diriku yang memutuskan agar sebaiknya aku gila saja. Kupindah channel televisiku ke saluran manapun yang kupikir tak akan terlalu membuatku lelah. Dan itu berarti berakhir di film sci-fi-brutal-action pamela. Apa mereka berharap ada yang mau menonton film ini? Sialnya, apapun harapan mereka aku tetap menontonnya. Saluran ini jelas tak punya uang untuk membeli film bagus lain setelah bourne. Mereka harus mengirit bulan ini untuk membeli film lain di bulan depan. Meraka jelas tak mau ketinggalan momen valentine.

Risol , mendengkur di kakiku. Dia kucing tetangga yang kuberi nama. Walau ia bukan kucingku, aku tetap merasa berhak melakukannya. Toh aku yang memberinya makan setiap hari. Dia kucing aneh, selalu mengikutiku kemanapun saat lapar dan pergi begitu saja saat kenyang. Dan sayangnya dia selalu lapar. Ia membuatku merasa aku majikannya. Dan kurasa majikan yang sebenarnya tak pernah ditunggui di depan toilet saat buang air.

Rasa malas sudah mulai kalah dengan rasa lapar. aku turun menuju dapur dan tak menemukan makanan apapun. Aku memakluminya karena ini jam 2 pagi. Aku harus memasak sesuatu jika aku ingin tetap hidup. Aku sengaja menggeser jam tidur dan jam makanku. Jujur saja itu kulakukan untuk mempersedikit durasi bertemu dengan keluargaku. Apapun yang kami alami, aku merasa butuh waktu untuk menyendiri sejenak. Dan banyak momen seperti yang kualami saat ini membuatku hanya terdiam, tak melakukan apapun. bagiku menunggu mie matang adalah tak melakukan apapun. Risol yang tentu saja membuntutiku membuatku tersadar kalau mie yang kumasak sudah matang. Dimasak secara konvensional, tanpa topping apapun kecuali dua telur. Aku agak memperbanyak protein belakangan ini, dan mempersedikit total nasi yang masuk ke perutku. Kurasa ini bentuk dukunganku terhadap ibuku yang divonis diabetes beberapa bulan yang lalu. Dan satu hal yang kupelajari, kau tak akan mati jika tak makan nasi.

Hujan belum juga berhenti. Itu membuat rasa mie yang kubuat puluhan kali lebih enak. Langit tampak gelap di luar sana. Dan percayalah, setting terbaik sabuah cerita adalah saat seperti ini. Tentu saja film pamela adalah sebuah pengecualian.

Suasana ini membuatku kembali berada dalam momen diam. Tiba-tiba aku tak merasa lapar lagi, dan kini aku memain-mainkan sesuatu yang tadinya mie. Adakah yang harus kulakukan? Karena aku tak merasa berada dalam track yang seharusnya. Di kepalaku seperti bermunculan puluhan pelangi, tapi pelangi-pelangi tadi tak menemukan jalan keluar untuk menunjukkan keindahannya pada dunia. Atau lebih tepatnya aku tak mengijinkannya keluar. Karena tentu saja banyak hal di luar sana yang bisa memaksamu memendam banyak keinginan dan menunggu momen yang tepat. Karena hidupmu bukan hanya milikmu. Kau harus berkorban untuk orang lain yang telah berkorban untukmu. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh ibuku. Walau tidak suka aku tetap mengiyakan. Saat ini aku merasa tak bisa melakukan apapun.

Momen diam kali ini kurasakan cukup panjang. Membuat segalanya tampak kelabu. Dan entah mengapa aku selalu merasa bahagia berada dalam momen ini. Kalau aku disuruh menggambarkan ulang dengan lukisan, aku akan menjiplak lukisan monalisa.

Seorang anak tiba-tiba muncul di hadapanku. Ia berkostum aneh dan selalu muncul kapanpun aku memikirkannya. Dia berkata. “Lakukan saja!” sambil mencibir dengan wajah mengapa- kau- membuatku- menunggu-selama-ini. Anak brengsek, kau kira mudah apa? Seekor tanaman lewat di depanku. Seekor tanaman? Aku mungkin memang sudah gila, tapi ia tampak seperti mickey mouse. Hanya saja kepalanya tertutup kelopak bunga dan kakinya seperti akar yang menampar-nampar lantai saat ia berlari. Dia tertawa mengejekku sambil berkata “Lakukan saja!”

Seorang anak lain yang terlihat sakit dengan piyama kebesaran dan mug di tangannya berjalan di belakang mickey berkepala bunga, tersenyum padaku sambil menunjuk pena di meja kerjaku seakan aku alien yang tak tahu apa fungsi pena. Aku lalu memegangnya dan menuliskan sesuatu. Mereka bersorak. Lalu entah dari mana teman-teman mereka berdatangan, dan membuat kamarku tampak bersinar di bawah langit yang mendung. Kalau kupikir-pikir mereka berisik sekali. Tapi setidaknya kini aku tidak merasa sendirian.

perbincangan klepon dan kucing tetangga yg ngefans sama aku…

16 Januari 2010 at 15:38 | In h a r i a n c a n a | Leave a Comment

risol                           : hem… ada dendeng bergerak…

dendeng                   : citt… ciiit ciittt (tolooooong!!!!)

klepon                       : kau sangat menjijikan risol… aku tak mau mengenalmu lagi!!!

menyusun tulisan gila

29 Desember 2009 at 04:25 | In h a r i a n c a n a | 2 Comments

bersama mbak amek… menyusun tulisan gila…

yg gila bukan tulisannya sih, tapi persiapannya… wew…

harus berhasil… aw aw aw

kecewa dengan yg kubuat

7 Desember 2009 at 12:51 | In 22958751 | 2 Comments

well… sedang membuat interior… tapi tidak berasitektur… tak ada esensi yg dikejar, tak ada yg tersampaikan…

semoga di masa depan tak akan jatuh di lubang yg sama

yang tak pergi

28 November 2009 at 12:23 | In c e r p e n | Leave a Comment

Gesekan daun mengalun perlahan malam ini. Rantingnya mengibas ke dinding rumah tua yang tetap terdiam walau diganggu semalaman. Beberapa puluh bata tampak telanjang pada bagian dinding yang mengelupas. Seperti kerut pada wajah yang muncul sejalan usia. Derit tangga kayu turut menunjukkan usianya. Bersahut-sahutan di setiap pijakan dari sosok apapun yang menaikinya.

Tikus-tikus berdecit berkelana tanpa rasa takut. Setiap malamnya, kegelapan menjadi malaikat penjaga bagi mereka. Mereka leluasa mencuri dan memakan apapun, termasuk sabun dan sandal. Tak heran jika mereka berpenyakit menular.

Sesosok tubuh manusia mungil tak terganggu dengan kehadiran mereka. Tobi nama sosok tersebut. Bagi Tobi, ketukan kaki mereka adalah hiburan dari Tuhan. Seperti musik yang tak mampu diciptakan manusia, karena terlalu natural dan terlalu kuno. Tak ada manusia hidup manapun yang pernah melihat saat musik tersebut diciptakan.

Saat ketukan-ketukan itu pergi, ia menirukan ketukan tadi pada kaca daun jendela. Walau tak berusaha memecah keheningan malam. Ia tetap tidak menghentikan ketukan jarinya, sampai decit-decit ketukannya berubah menjadi galau. Kaca itu seolah mulai jenuh dan berkata, “Hentikan sobat! aku mulai merasa geli,” lalu Tobi menghentikan ketukan jarinya.

“Maaf…,” jawab Tobi.

“Tenanglah. Dia hanya pura-pura. Kaca mana sih yang tak senang diketuk?” sebuah sosok berbicara di hadapan Tobi. Menjulurkan senyum di ambang jendela. Ia begitu cantik tanpa riasan.

“Dari mana kau tahu?” tanya Tobi penasaran.

“Mereka pernah bercerita padaku…,”  si cantik menjawab dengan santai.

“Begitukah?” Tobi kemudian duduk di kursi rotan tua yang menghadap ke jendela. Kursi ini berderit saat diduduki, seperti halnya semua barang yang ada di rumah ini.

“Yap… , dan kau pasti tidak percaya….”

“Aku percaya. Buktinya aku berbicara padamu,” pandangan mata Tobi berubah sedikit teduh. Otot-otot wajahnya saling menjauh, mengendur perlahan menanggalkan semua ketegangan. Ia terlihat jauh lebih letih dari usianya.

“Hahaha… Baiklah,” tawanya merekah. Ia merona lebih cantik dari sebelumnya. “Ngomong-ngomong, selamat ulang tahun.”

“Bagaiamana kau tahu?”

“Aku tepat waktu ya.”

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” balas Tobi cepat.

“Wajah tak akan pernah bohong, Tobi.”

“Apa maksudmu??”

“Aku bisa membaca wajah. Wajahmu bilang, lima menit yang lalu usiamu bertambah,” si cantik menyeringai genit.

“Kau bisa tahu usiaku dari wajah?? Aneh sekali.”

“Hey, kau lebih aneh bisa percaya padaku. Tapi aku benar kan?”

“Ya, kau benar… terimakasih ya atas ucapannya.”

“Terimakasih kembali,” balas si cantik seolah mengakhiri pembicaraan.

Tobi menghela nafas panjang. Menghirup udara dingin yang berhembus mendekatinya. Malam ini sunyi sekali, pikirnya. Tak satupun yang berbicara selain si cantik dan dirinya. Yang lainnya hanya berbisik. Seolah membicarakan hal yang sangat tabu. Disinari rembulan, dahan-dahan-dahan kering memendarkan cahaya di sebagian sisinya, dan menggantungkan kepekatan di sisi lainnya. Daunnya bergerak-gerak seiring bisikan-bisikan mereka. Kalau dipikir-pikir mereka berisik sekali. Baiklah aku ralat kata-kataku tadi, malam ini tidak jadi sunyi.

“Apa yang kau pikirkan?” si cantik kembali bersuara.

“Tebak saja. Kau kan bisa membaca wajah,” Tobi menjawab sambil tersenyum nakal.

“Hem… Kau ingin terbang?”

“Ha… ha… ha…,” tawa Tobi cukup lepas walau menampakkan rasa letih. “Kau memang pembaca wajah yang hebat,” ia menggeleng-gelengkan wajah seolah tak percaya bercampur namun tetap kagum.

“Dan kau berfikir kau tak akan bisa mewujudkannya?”

“Kau kan sudah tahu jawabannya? Baca saja wajahku!” jawab Tobi masih dengan tawanya.

“Kau menyenangkan juga ya….”

“Begitukah?”

“Hi.. hi.. hi… Kau bodoh sekali. Bolehkah aku berbincang-bincang denganmu lagi besok?” tanya si cantik lirih.

“Tentu saja boleh. Kau mau pergi?”

“Tidak. Memangnya kenapa?”

“Kamu seperti mau pamit.”

“Aku kan hanya minta ijin untuk berbincang-bincang lagi besok, bukan mau pamit,” balas si cantik. “Hem… kalau besok kau ingin menyapaku lebih dulu, boleh saja kok.”

“Haha, baiklah.”

“Ngomong-ngomong kau sudah punya pacar?”

“Kau kan sudah tau….”

“Hey, kau tahu etika berbinang-bincang tidak sih?”

“Ya.. ya.. maaf… Tapi kau kan bisa baca wajahku, kenapa tanya-tanya segala?”

“Kalau aku tidak bertanya, kita hanya akan diam saja semalaman. Kau ini memang bodoh ya.”

“… aku memang bodoh dan belum punya pacar. Apa kamu puas?”

“Kenapa belum punya?”

“Bisakah kita tidak membahas ini?”

“Hem.. oke… Bagaimana  dengan teman perempuan yang kamu suka?” tanya si cantik geli.

“Hey.. hey… ganti topik!”

“Aaaahhh… kamu malu ya?” goda si cantik.

“Baiklah, selamat malam… dan selamat tinggal!” jawab Tobi tanpa beranjak.

“Sudah kuduga kau akan bilang begitu. Kau seperti anak kecil”

“Aku memang masih kecil….”

“Hey, kamu sudah lima belas tahun lebih beberapa puluh menit. Kau bukan anak kecil lagi,” tutur si cantik.

“Ahh… tahu apa kau?”

“Tak perlu tahu apa-apa kan untuk tahu kau bukan anak kecil lagi.”

“Aku malas berkomentar. Kau baca saja wajahku… Sebentar ya, aku mau mengambil minuman dulu,” perlahan Tobi bangkit dari kursinya. Kakinya kursinya sedikit bergeser, memberi efek suara gesekan yang menggema.

“Kau marah??”

“Tidak!” jawab Tobi cepat.

“Aku tahu kau marah. Jangan bohong!”

“Ya, aku marah. Tapi bukan padamu kok. Sebentar ya, kau masih akan di sini kan?” Tobi meninggalkan si cantik di ruang itu tanpa menunggu jawaban darinya. Ia melintasi ruang perlahan. Menuruni tangga yang kembali berderit saat Tobi injak. Derit itu seolah berbicara “Hey… kami harus pensiun. Tidakkah kau kasihan pada kami?”

Entah mengapa Tobi menjawab, “itu bukan wewenangku. Kau bilang saja pada ayahku! Aku juga akan lebih senang kalau kalian tidak berisik lagi.”

Tangga terakhir yang Tobi pijak berderit keras sekali, seolah berkata “Dasar anak kurang ajar. Umur kami nyaris tiga kali umurmu tahu…! Awas kau!”

Tobi meninggalkan tangga dengan tertawa geli, tak menghiraukan ancaman imajinasinya. Ia berjalan perlahan menuju dapur melewati lorong-lorong yang melengkungkan tubuhnya. Setiap melaluinya, Tobi selalu menyentuh tangannya di bagian dinding yang sama. Ia bertanggung jawab dengan noda yang tertinggal di sana. Tapi lorong tak pernah marah, pikir Tobi. Mereka senang-senang saja. Tak ada satupun yang protes.

Tobi mengambil gelas kesayangannya, lalu menuangkan teh sisa tadi sore dari teko plastik yang sudah usang karena noda teh. Bau tehnya terasa pekat, tapi Tobi menyukainya.

“Hai, selamat ulang tahun…,” sesosok kawan lama menyapanya. Tobi sedikit terkejut dengan kehadirannya.

“Oh.. hai, Tom.. terimakasih. Ngomong-ngomong, kau terlambat dua puluh menit,” balasnya dengan santai. Tobi lalu menyeruput teh dingin yang dipegangnya.

“Habis, kupikir kau sudah tidur.”

“Sudah seminggu ini kan aku tak bisa tidur….”

“Oh, ya?”

“Kupikir kau sudah tahu….”

“Bagaimana aku tahu nasibmu kalau kau tak cerita?”

“Ha.. ha.. sekarang kau sudah tahu kan? Jadi aku tak perlu cerita lagi.”

“Ah, kau ini. Ngomong-ngomong kau sendirian?? Sedang melamun ya? Butuh ditemani??” tanya Tom lebih seperti ingin diajak daripada menawarkan diri.

“Aku sedang ngobrol bersama si cantik, mungkin kau kenal… Mau ikut?”

“ Tentu saja mau. Lagipula kau pasti membawaku kan?”

Tobi kemudian mengajak Tom menuju lantai atas. Si cantik masih duduk di ambang jendela.

“Kenalkan, ini Tom,” tutur Tobi.

“Hai..!” Sapa si cantik.

“Hai..” Jawab Tom yang kemudian berbisik pada Tobi, “wow… dia cantik sekali.”

“Tobi, hadiahmu sudah datang…,” si cantik berkata dengan riang.

“Wah, mana??” tanya Tobi tak sabar.

“Tungguuu…! Sebentaaar… sedikit lagi… tiga… dua… satu… yak!” senyum si cantik menambah keindahan malam itu. Angin tiba-tiba berhembus tanpa ragu. Menyapu dedaunan di halaman. Sekelompok kupu-kupu berhamburan di sana. Mereka menari-nari menaburkan warna dan  meninggalkan jejak maya di udara. Mereka menebarkan sinar redup akibat dentuman cahaya bulan pada sayap-sayap cantik mereka, sambil melukis malam dengan kepakannya. Setelah membubuhkan warna terakhir pada lukisannya, mereka berangsur-angsur pergi, mencari keteduhan baru, bersiap-siap memberi hadiah lagi bagi siapapun yang melihat mereka di kemudian hari.

“Waw… indah sekali. Terimakasih,” kata Tobi senang.”Bagaimana kau melakukannya?” tanya Tobi. Kekaguman masih tertinggal di wajahnya.

“Hem… katakanlah aku persuasif,” jawab si cantik datar.

“maksudmu, Kau bisa membujuk kupu-kupu??” tanya Tobi tak percaya.

“Kalau kau menganggap begitu, boleh saja.”

“Aku bisa membujuk kecoa kalau kau mau,” sela Tom, sambil menatap Tobi.

“Terima kasih Tom. Aku takut pada kecoa kalau kau tak lupa.”

“Aku bisa membujuk teh panas menjadi hangat,” balasnya lagi agak sombong.

“Tapi waktu yang membujuknya… bukan kau…,” si cantik tertawa geli. Walau sedang menyebalkan kecantikannya tak berkurang sedikitpun.

“Ah, kalian hanya iri padaku…”

“Wah, dia sensitif sekali ya,” bisik cantik pada Tobi.

“Ya, begitulah dia.”

Tiba-tiba suara derit lirih terdengar.

“Hem, aku mendengar sesuatu. Saranku kau diam saja, Tobi!” bisik si cantik lagi.

Gesekan langkah pada lantai kayu terasa berat. Semakin mendekat dan semakin dalam bunyi deritnya. Sepasang kaki menyapu debu di lantai, meninggalkan jejak pada ruang yang kotor. Langkah kaki tersebut kini melambat, dan berhenti tepat di sebelah Tobi.

“Sedang apa kau?” Tanya seorang pria tegap dengan kasar. Ia membawa seekor kucing besar di dadanya. Kucing Persia bernama Russel yang terlihat menikmati setiap belaian si tuan.

“Tidak sedang apa-apa. Hanya minum teh,” jawab Tobi agak canggung.

“Tidur sana! Kalau tak bisa, lakukan hal yang lebih berguna. Aku tak mau kau jadi bodoh karna terlalu banyak melamun.”

“Baik, Ayah,” jawab Tobi sambil menunduk, tak berani memandang sosok ayahnya.

Sang ayah belum beranjak. Memperhatikan anaknya sedang memegang gelas bergambar Tom—karakter dalam kartun Tom and Jerry—sambil memandang jendela berbingkai melenkung, di mana setangkai mawar hidup diletakkan di meja persis di depannya. Mawar itu meliuk gemulai seolah menjangkau ruang bebas di luar jendela yang terbuka, berusaha menangkap sedikit kebebasan. Cantik namun memilukan. Setidaknya itulah yang ditangkap sang ayah.

Bosan dengan apa yang dilihat, sang ayah memutuskan kembali ke kamarnya. Ia kembali meninggalkan jejak di lantai berdebu, terbatuk-batuk menyeberangi ruang, tertatih-tatih meninggalkan Tobi. Setelah beberapa langkah, sang ayah berkata, “jaga kesehatanmu! Jangan lupa minum obatmu! Bukan hanya kau yang satu-satunya sakit di rumah ini.”

Sang kucing menjulurkan kepalanya dan menoleh ke arah Tobi. Ia berbicara sambil tertawa, “Tahukah kau kalau dia dan kamu bukan tuanku? Tapi akulah tuan kalian? Hi.. hi.. hi.. Dasar manusia. Kalian hanya bisa melihat apa yang kalian ingin lihat,”  tobi tetap terdiam. Russel pun kembali berkata, “Jangan lupa siapkan sarapanku jam enam pagi! Kalau kau sampai lupa akan kugigiti kakimu sampai lecet…”

Sang ayah terus saja berjalan. Sepertinya sang ayah tak mendengar kucingnya berbicara. Sang ayah juga tak mendengar Tom dan si cantik yang sejak tadi sudah mulai berbisik-bisik mempergunjingkan dirinya.

“Dia bahkan tak mengucapkan selamat ulang tahun. Ayah macam apa dia?” bisik Tom pada si cantik.

Alih-alih menjawab pertanyaan Tom, si cantik  malah bertanya pada Tobi, “mengapa ayahmu tak bisa melihat aku dan Tom?”

“Karena tak ada orang dewasa yang berbicara pada bunga dan gelas kecuali dia gila,” sahut Tobi. Ia lalu menambahkan, “Ia melihat kalian. Hanya saja berbeda dengan apa yang kulihat.”

“Kau bisa bicara pada kami. Berarti kalau tidak gila, kau pasti tidak dewasa?” sahut Tom.

“Bisa dibilang begitu. Katakanlah pikiranku yang menjadikan kalian bisa bicara.”

“Mengapa kau menginginkan kami begitu?” tanya Tom penasaran.

“Cantik tahu jawabannya. Tanya saja padanya!” jawab Tobi sambil tersenyum.

“Karena bagimu kami tak akan meninggalkanmu seperti yang dilakukan orang-orang di sekelilingmu. Bukan begitu? Entah mengapa aku sedih mengatakannya.”

Tobi tak menjawab. Ia mengangkat Tom. Tangannya mendekatkan Tom ke arah bibirnya, lalu menenggak sisa teh di dalamnya.

“Tapi Tobi, aku bisa saja pecah dan dibuang. Saat itu secara teknis aku akan meninggalkanmu bukan,” tanya Tom heran.

“Aku juga akan layu tak lama lagi,” tambah si cantik.

“Tapi kalian akan jadi bentuk lain. Kalian adalah satu, dan tak akan pernah hilang dariku,” Tobi terdiam sejenak. Lalu berkata, “bisakah kita bicarakan hal lain?” pinta Tobi dengan mata yang seolah menampung segala kesedihan. Tom dan si cantik mengabulkan permintaan Tobi. Lalu mereka membicarakan hal lain. Sampai cahaya merambat naik dan segala penjuru ruang tertawa tertimpa cahaya. Hingga ribuan senyum tertebar di sana, dan Tobi pun ikut tersenyum karenanya. Saat ini, ia tak lagi ingin menjadi dewasa.  Saat di mana sinar di sekelilingnya semakin menyilaukan, dan ia tak lagi bisa merasakan yang datang dan pergi. Segalanya kini menjadi putih. Kebahagiannya kini menjadi nyata, sampai-sampai tawanya tak bisa dilepas lagi dari bibirnya.

* * *

Seminggu kemudian, sang ayah duduk di tempat yang sama. Memegang gelas yang sama dan memandang bunga yang sama. Hanya saja kelopaknya kini menghitam. Sehitam kelopak matanya saat ini. Pandangannya begitu hampa. Sehampa gelas yang dipegangnya.

Sang ayah berdiri perlahan, lalu meletakkan gelas yang dipegangnya di bingkai jendela yang melengkung kedinginan. Dia melihat banyak coretan di sana. Salah satunya terlihat sangat jelas. Seolah baru saja dituliskan kemarin. Tulisan itu berbunyi, U n t u k   a y a h  :  j a n g a n   m e n a n g i s !

Sang ayah pun mengerti. Namun tetap tidak bisa memenuhi permintaannya. Bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan. Ia mengambil kembali gelas yang baru saja ia letakkan, lalu memeluknya erat. Ia menopangkan tubuhnya pada dinding kusam di samping jendela, jatuh menangis dan meringkuk perlahan. Selembar kelopak mawar kering jatuh ke lantai, tak memberi bekas apapun kecuali luka di hatinya. Suara tangisnya kini begitu keras, bergema di seluruh penjuru rumah. Seolah rumah itu ikut menangis bersamanya.

* * *

tak ada judul di 29 november 2009

28 November 2009 at 08:58 | In h a r i a n c a n a | Leave a Comment

Masa depan. Sesuatu yang dinantikan sebagian orang dan ditakutkan oleh sebagian yang lain. Suka ataupun tidak, kita diminta untuk menyusun kepingan puzzle yg kita buat tanpa boleh tahu bagaimana hasil akhirnya nanti. Memasang dan mencopot kembali kepingan diperbolehkan. Hanya saja waktu yg telah digunakan tidak akan kembali. Sebuah kegagalan disatu sisi, dan sebuah pembelajaran untuk tidak jatuh di lubang yang sama di sisi yang lain.

Sebagian orang mampu melihat hasil akhir susunan puzzle mereka. Dengan cara beragam. Keyakinan, visi yang kuat, berbagai motivasi atau takdir. Pendek kata, mereka telah merencanakan kepingan-kepingannya berdasarkan ego dan empati yang berjalan beriringan. Lalu ada sebuah pertanyaan. Bagaimana jika hasil akhir yg kita lihat teralu besar untuk mampu kita selesaikan pada waktu hidup kita yang juga sebuah misteri? Akankah kita bersikeras untuk menyelesaikannya, atau contek saja prototype orang lain yang dirasa lebih mudah?

*baru saja kehilangan sebuah kepingan puzzle karena suatu hal. Dan berjanji tak akan menggantungkan nasib ke tangan orang lain lagi.

m u s u h n e n e k

14 Oktober 2009 at 04:16 | In h a r i a n c a n a | Leave a Comment

fakta menarik pagi ini…

musuh nenek adalah cucu orang lain….

*mendengar percekcokan di bawah

p u d i n g m a n g g a

13 Oktober 2009 at 15:30 | In h a r i a n c a n a | Leave a Comment

saya : cobain puding mangga buatanku kak

spupu saya: hem… kok enak… bikinnya gimana??

saya: direbus…

h e y a s i s t e n

12 Oktober 2009 at 08:03 | In h a r i a n c a n a | Leave a Comment

dasar asisten2 pemalas… bikin contoh sendiri sana… !!!

*menyiapkan boneka bertuliskan nama seseorang lengkap dengan paku besar…

s a r a n t e m a n

16 September 2009 at 13:26 | In h a r i a n c a n a | Leave a Comment

teman : tulisannya gak update. bikin tulisannya yg serius dikit dong. cerpen lu kek dikeluarin…

saya : hem gak nyempet…

teman: sibuk apa emang?

saya: tidur…

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.